Senin, 10 April 2017

TUGAS KELOMPOK PENDIDIKAN (KELOMPOK 5)

Kelompok 5:
Narulita Desi Basaria (16-177) (http://narulitadesi.blogspot.com)
Prima Nikita (16-181) (http://primanikita16181.blogspot.com)
Esther Pasaribu (16-183) (http://estherpsrb16183.blogspot.com)
Ruth Shinta B. T. (16-192) (http://esdungdungkacanghijau.blogspot.com)
Winika Deliana Sitompul (16-193) (http://foodienyummy.blogspot.com)
Dwifarilan Filadelfia (16-213) (http://stalkingwhi.blogspot.com)
Ruthwany V. C Hutagaol (16-215) (http://pizzazzandhappiness.blogspot.com)
Wina Audina (16-230) (http://bangtanstrash.blogspot.com)


BAB I
PENDAHULUAN

A.    PENGERTIAN

Pendidikan merupakan hal yang berperan penting dalam kehidupan kita.Pendidikan dikatakan berlangsung seumur hidup dan itulah yang menuntut kita untuk melalui pendidikan. Melalui pendidikan ini, kita di tuntun untuk menjalani proses pembelajaran.
Pembelajaran adalah pengaruh yang relatif permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir yang diperoleh melalui pengalaman.

Masa middle dan late childhood ( usia 16-12 tahun) disinilah masa pendidikan sekolah dasar dimulai. Pendidikan sekolah dasar ini merupakan awal sangat penting. Tingkat ini merupakan tingkat awal yang akan membentuk kita untuk siap masuk kepada transisi pendidikan selanjutnya. Terdapat dua pendekatan dalam pembelajaran yaitu Pendekatan Behavioral dan Pendekatan Kognitif Sosial.

1.     Landasan Teori

A.    Pendekatan Pembelajaran

Terdapat dua pendekatan untuk pembelajaran yang kami jadikan landasan teori, yaitu Pendekatan Behavioral dan Pendekatan Kognitif Sosial. Behaviorisme merupakan pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Pendekatan behavioral untuk pembelajaran ini terbagi menjadi dua, yaitu : Pengkondisian Klasik (Classical Conditioning) dan Pengkondisian Operan (Operant Conditioning). Pengkondisian klasik dan operan menekankan pada pembelajaran asosiatif (associative learning). Pengkondisian klasik itu sendiri merupakan bentuk pembelajaran asosiatif di mana stimulus netral diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan memunculkan kemampuan untuk mengeluarkan respons yang serupa, sedangkan pengkondisian operan merupakan bentuk pembelajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan pada kemungkinan perilaku yang akan diulangi. Hukum efek (law effect) Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Sedangkan pengkondisian operan, di mana konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan terjadi, merupakan inti dari behaviorisme Skinner (1938).

Teori Kognitif Sosial (social cognitive theory) menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran.Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan; faktor sosial mungkin mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya. Proses pembelajaran yang berkontribusi pada teori kognitif sosial ini merupakan pembelajaran observasional. Pembelajaran Observasional disebut juga disebut imitasi atau modelling, adalah pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain.

B.    Motivasi
Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku.Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Perspektif psikologi menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda pula, terdapat 4 perspektif, yaitu : Behavioral, humanistis, kognitif dan sosial.

1.     Perspektif Behavioral
Perspektif behavioral menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid.Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Pendukung penggunaan insentif menekankan bahwa insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran,  dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat.

2.     Perspektif Humanistis
Perspektif Humaniatis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka. Dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain). Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi. Menurut hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan individual harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut
*  Fisiologis : lapar, haus, tidur.
*  Keamanan (safety) : bertahan hidup, seperti perlindungan dari perang dan kejahatan.
*  Cinta dan rasa memiliki : keamanan (safety), kasih sayang, dan perhatian dari orang lain.
*  Harga diri : menghargai diri sendiri.
*  Aktualisasi diri : realisasi potensi diri.

3.     Perspektif Kognitif
Menurut perspektif kognitif,  pemikiran murid akan memandu motivasi mereka.  Belakangan ini muncul minat besar pada motivasi menurut perspektif kognitif.  Minat ini berfokus pada ide-ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka (persepsi tentang sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan,  terutama perspesi bahwa usaha adalah faktor penting dalam prestasi),  dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif.

4.     Perspektif Sosial
Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat,  keterikatan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.

Bentuk motivasi ada dua yaitu : Motivasi Instrinsik dan Motivasi Ekstrinsik. Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri), Misalnya, murid mungkin belajar menghadapi ujian karena dia senang ada mata pelajaran yang diujikan itu. Sedangkan Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk medapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan), motivasi ini sering juga dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti punishment dan reward.
Carol Dweck dan rekannya (Dweck, 2002., Henderson dan Dweck, 1990., Dweck dan Leggett, 1988) telah menemukan bahwa anak menunjukkan dua respon yang berbeda terhadap tantangan atau situasi yang sulit, yaitu : orientasi untuk menguasai (mastery orientation), orientasi tak berdaya (helpless orientation). Anak dengan orientasi untuk menguasai akan fokus pada tugas ketimbang pada kemampuan mereka, punya sikap positif dan menciptakan strategi berorientasi solusi yang meningkatkan kinerja mereka. Sedangkan anak dengan orientasi tak berdaya berfokus pada ketidakmampuan pada personal mereka, seringkali mereka mengatributkan kesulitan mereka pada kurangnya kemampuan, dan menunjukkan sikap negatif (termasuk kejemuan dan kecemasan).

C.    Teori Vygotsky

Menurut Vygotsky, anak menggunakan pembicaraan bukan saja untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk membantu mereka menyelesaikan tugas. Lebih jauh Vygotsky yakin bahwa anak pada usia dini menggunakan bahasa untuk merencanakan, membimbing, dan memonitor perilaku mereka. Vygotsky mengatakan bahwa bahasa dan pikiran pada awalnya berkembang terpisah dan kemudian menyatu. Anak harus menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain sebelum mereka dapat memfokuskan ke dalam pikiran-pikiran mereka sendiri. Anak juga harus berkomunikasi secara eksternal dan menggunakan bahasa untuk jangka waktu ayng lama sebelum mereka membuat transisi dari kemampuan bicara eksternal menjadi internal.
Pada dasarnya, teori-teori Vygotsky didasarkan pada tiga ide utama: (1) bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka telah ketahui; (2) bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual; (3) peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajran siswa.
Menurut teori Vygotsky, Zona Perkembangan Proksimal merupakan celah antara actual development dan potential development, dimana antara apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.Batas bawah dari ZPD adalah tingkat keahlian yang dimiliki anak yang bekerja secara mandiri.
Scaffoldingialah perubahan tingkat dukungan.Scaffolding adalah istilah terkait perkembangan kognitif yang digunakan Vygotsky untuk mendeskripsikan perubahan dukungan selama sesi pembelajaran, dimana orang yang lebih terampil mengubah bimbingan sesuai tingkat kemampuan anak.Vygotsky memandang anak-anak kaya konsep tetapi tidak sistematis, acak, dan spontan. Dalam dialog, konsep-konsep tersebut dapat dipertemukan dengan bimbingan yang sistematis, logis dan rasional.

D.    Perkembangan pada Anak

Mulai anak umur 6 tahun, anak sudah matang untuk masuk sekolah. Masa anak sekolah adalah usia 6-12 tahun, pada masa ini anak memasuki masa belajar didalam dan diluar sekolah.
            Banyak aspek perilaku dibentuk melalui penguatan (reinforcement) verbal keteladanan dan identifikasi (Ahmadi, 2005: 70):
a.      Perkembangan Intelektual
Anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar menurut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitifnya.
b.     Perkembangan Bahasa
Usia SD merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai pembendaharaan bahasa (Vocabulary).
c.      Perkembangan Sosial
Anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri (egosentris) kepada yang kooperatif (bekerja sama) atau sosientris (mau memperhatikan kepentingan orang lain sehingga diterima menjadi anggota kelompok).
d.     Emosi
Anak mulai sadar bahwa pengungkapan kata-kata kasar tidak diterima di masyarakat.Jadi, dia mulai belajar untuk mengkontrol emosinya dalam bergaul.
e.      Moral
Anak mulai mengenal konsep moral (mengenai benar dan salah atau baik buruk) pertama kali dalam diri keluarga.
f.      Perkembangan Penghayatan Keagamaan
Usia SD merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama sebagau kelanjutan dari periode sebelumnya. Kualitas keagamaan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan atau pendidikanyang diterimanya.
g.     Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik anak SD sudah dapat terkoordinasi dengan baik.Hal ini ditandai dengan kelebihan gerak aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan amsa ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik. Contohnya: menggambar, melukir, mengetik(computer), dll (Yusuf,2005:56)

E.    Pendidikan pada Anak

Psikologi pendidikan anak berbeda-beda disetiap tahap usia. Psikologi pendidikan anak usia SD tentu saja berbeda dengan psikologi pendidikan anak usia dini ataupun anak-anak pada jenjang pendidikan diatas sekolah dasar. Untuk memahami psikologi pendidikan anak usia sekolah dasar dapat mulai dengan memahami karakteristik anak yang duduk di jenjang pendidikan dasar ini.
Berikut ini adalah karakteristik yang umu dimili anak usia SD, yaitu:
a.      Senang bergerak
Berbeda dengan orang dewasa yang betah duduk berjam-jam, anak anak usia SD lebih senang bergerak. Anak-anak usia ini dapat duduk dengan tenang maksimal sekitar 30 menit.
b.     Senang bermain
Dunia anak memang dunia bermain yang penuh kegembiraan, demikian juga dengan anak-anak usia sekolah dasar, mereka masih sangat senang bermain. Apalagi anak-anak SD kelas rendah.
c.      Senang melakukan sesuatu secara langsung
Anak-anak usia SD akan lebih mudah memahami pelajaran yang diberikan guru jika ia dapat mempraktikkan sendiri secara langsung pelajaran tersebut.

d.     Senang bekerja dalam kelompok
Pada usia SD, anak-anak mulai intens bersosialisasi. Pergaulan dengan kelompok sebaya, akan membuat anak usia SD bias belajar banyak hal, misalnya setia kawa, bekerja sama, dan bersaing secara sehat.

2.     LAPORAN OBSERVASI

A.    Alat dan Bahan

·      Buku Tulis
·      Alat Tulis
·      Kamera
·      Handphone


B.    Analisa Data
Data diperoleh secara langsung pada lembaga pendidikan sekolah yang telah ditentukan pada saat awal penelitian. Data yang telah diperoleh tersebut akan diolah sesuai dengan teori pembelajran observasional.
Metode yang akan kami gunakan untuk memperoleh data ialah sebagai berikut:

a.      Observasi
Untuk mendapat data pada saat penelitian, kami menggunakan metode observasi secara langsung yaitu dengan mendatangi sekolah Methodist-an Pancur Batu untuk mengamati kegiatan proses pembelajaran siswa/i kelas 4 dan kelas 5 serta proses pengajaran gutu SD Methodist-an Pancur Batumulai dari awal proses pembelajaran disekolah hingga berakhirnya proses pembelajaran. Dan kami berfokus pada manajemen kelas.

b.     Wawancara
Kami dari setiap perwakilan kelas melakukan pengambilan sampel dengan cara memilih secara random untuk diwawancara tentang pemahaman mereka atas materi yang disampaikan oleh gurunya.

C.    Identitas Sekolah
Nama sekolah       : SD Methodist-an Pancur Batu
Alamat sekolah      :Jl.Letjen Jamin Ginting No.36,BARU,Kec.PancurBatu,    Kab.Deli Serdang Prop. Sumatera Utara.

Uraian Aktivitas Observasi
Hari Pelaksanaan        : Sabtu,
Waktu Pelaksanaan    : 12.00 – 15.00
Pembagian Tugas       : Setiap anggota mengamati perilaku siswa dan guru
Objek Observasi
Objek yang menjadi observasi dalam tugas ini adalah beberapa siswa/I dari kelas 4 dan kelas 5 Sekolah Mehodist-an Pancar Batu.

BAB II
SISTEMATIS PENELITIAN

2.1 PELAKSANAAN
Sekolah yang menjadi tempat pengambilan data kami adalah Sekolah SD Mehodist-an Pancar Batu yang bertempat di Jl. Jamin Ginting, No 36, Pancurbatu, Baru, Deli Serdang, Sumbul, Sinembah Tj. Muda Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara 20353. Berikut adalah susunan pelaksanaan kegiatan kami:

No.
Kegiatan
Tanggal
1.
Permohonan surat izin dari fakultas
11 Maret 2017
2.
Diskusi pemilihan objek penelitian (manajemen kelas)
11 Maret 2017
3.
Diskusi perencanaan observasi
11 Maret 2017
4.
Meminta izin dan memperoleh izin dari Sekolah SD Mehodist-an Pancar Batu
12 Maret 2017
5.
Observasi
18 Maret 2017
6.
Pengolahan data
4 April 2017
7.
Diskusi kelompok
7 April 2017
8.
Posting blog
11 April 2017

BAB III
LAPORAN DAN EVALUASI DATA
3.1  LAPORAN

3.1.1 Sistematika Observasi
            Kami melakukan kegiatan observasi pada hari Sabtu, 18 Maret 2017 di sekolah SD Methodist-Antiokhia Pancur Batu. Sampel yang akan kami teliti ada 4 kelas dan berasal dari 2 tingkatan yang berbeda. Kelas yang kami obervasi adalah kelas IV Kaleb, IV Musa, V Musa, dan V Daniel. Para siswa masuk pukul 12.30 WIB, namun mereka tidak langsung memulai pelajaran mereka. Mereka melakukan ibadah selama setengah jam. Baru pada pukul 13.00 WIB proses belajar mengajar dimulai. Observasi kami lakukan kurang lebih selama 120 menit. Ditengah-tengah observasi kami mengambil sampel secara random untuk diwawancara mengenai pemahamannya atas materi yang diberikan oleh guru mereka.
Berikut adalah hasil observasi dari masing-masing kelas :

a)     Kelas IV Kaleb
ü  Jumlah siswa pada kelas tersebut ada 39 orang dimana posisi duduk mereka dibagi menjadi 8 kelompok kecil sehingga dalam satu kelompok kurang lebih berisi 5 anak.
ü  Gaya penataan bangku adalah perpaduan antara klaster dan tatap muka.
ü  Sebelum mereka memulai pelajaran tidak lupa mereka memberi salam kepada guru lalu beribadah. Di sela-sela waktu ibadah, suasana kelas masih kondusif. Lalu salah seorang siswa maju kedepan untuk memberikan pertanyaan seputar topik ibadah mereka. Bagi siswa yang bisa menjawab akan disuruh untuk maju kedepan kelas lalu akan diberikan reward berupa permen.
ü  Metode pengajaran di kelas ini adalah Teacher Oriented dimana guru  yang berpegang penuh dalam pemberian materi.
ü  Proses belajar mengajar dimulai setelah ibadah selesai. Sebelum guru memberikan materi, guru meminta murid untuk mengumpulkan tugas yang diberikan minggu lalu.
ü  Ditengah-tengah proses belajar mengajar ada sedikit masalah dimana ada dua siswa yang bertengkar, namun guru tersebut masih bisa mengendalikan keadaan tersebut.
ü  Pada saat guru memberikan materi keadaan kelas mulai tidak kondusif karena perlahan-lahan anak-anak tersebut fokus pada kesibukannya masing-masing namun masih dapat dikendalikan oleh guru. Namun saat sudah ditengah pelajaran para murid sudah mulai bosan sehingga mereka sudah mulai gelisah dan membuat kebisingan yang membuat guru sedikit bingung untuk mengendalikan kelas. Akhirnya guru tersebut berinisiatif untuk menyuruh para murid mengerjakan latihan. Lalu sebelum kelas berakhir, guru mengambil kesempatan untuk bermain games yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diajarkan agar para murid tidak bosan.
ü  Kami mengambil sampel sebanyak 10 orang untuk diwawancara seputar materi yang diajarkan oleh guru tersebut dan mereka menyatakan bahwa mereka memahaminya.
ü  Keadaan kelas sedikit gelap dan panas. Mungkin itu bisa menjadi faktor mengapa anak murid menjadi gelisah ditengah-tengah pelajaran karena kondisi kelas yang tidak nyaman. Namun kelas tersebut bersih dan tidak ada sampah yang menyebabkan terganggunya proses belajar mengajar dikelas tersebut.
ü  Keadaan diluar kelas lumayan kondusif sehingga tidak mengganggu kelas yang kami observasi.

b)     Kelas IV Musa
ü  Sama seperti kelas IV Kaleb sebelum memulai pelajaran mereka melakukan ibadah dan juga ada sesi pertanyaan seputar materi ibadah. Dan bagi siapa yang bisa menjawab akan diberikan reward.
ü  Dalam proses belajar, guru memberi instruksi kepada siswa untuk membuka buku.
ü  Metode pembelajaran dikelas ini adalah Teacher Oriented karena guru yang berpegang penuh dalam pemberian materi.
ü  Saat menyampaikan materi sesekali guru tersebut mengajukan pertanyaan kepada murid baik itu dengan menunjuk siswa, ataupun menanyakan kepada seluruh siswa.
ü  Siswa dikelas ini cukup aktif namun itu membuat keadaan kelas menjadi kurang kondusif.
ü  Saat proses belajar mengajar berlangsung, guru dan murid juga membahas PR siswa pada minggu sebelumnya. Lalu guru juga memberikan tugas kepada siswa untuk menguraikan materi yang sudah mereka bahas tadi. Dan tidak lupa memberi kuis singkat. Namun ada juga beberapa siswa yang belum sempat menyelesaikan tugas dan tidak dapat pertanyaan dari gurunya.
ü  Kami mengambil sampel sebanyak 4 orang dari kelas ini. Sebagian besar dari mereka sudah bisa memahami materi yang diberikan oleh guru mereka.

c)     Kelas V Yesaya
ü  Kelas tetap dimulai dengan ibadah terlebih dahulu.
ü  Di kelas tersebut sedang berlangsung kelas praktek bahasa inggris.
ü  Gaya penataan kelas berkelompok (Klaster)
ü  Siswa dikelas tersebut berinteraksi dengan guru dengan baik.
ü  Guru memberlakukan sistem point, dimana point tersebut mempengaruhi nilai.
ü  Diterapkann juga sistem less point yaitu mengurangi point apabila murid berbuat perlakuan negatif seperti ribut, ataupun mengganggu murid lain.
ü  Diterapkan sistem add point bagi siswa yang sudah melakukan hal yang baik seperti berpakaian rapi, tidak berisik, atau melakukan hal terpuji seperti memimpin doa.
ü  Interaksi antar guru dan siswa sangat kompak. Tidak ada rasa canggung.
ü  Guru mempraktekan dan mengajarkan cara membuat es coklat dengan baik dan ditiru murid dengan baik pula.
ü  Kelas ditutup dengan doa.

d)     Kelas V Daniel
ü  Kelas tetap dimulai dengan ibadah terlebih dahulu.
ü  Gaya penataan kelas adalah tatap muka karena setiap  meja berhadapan dan dikelompokkan.
ü  Situasi kelas bersih namun agak sedikit ribut karena para murid yang aktif dan juga berdekatan dengan kelas lain sehingga suara dari kelas lain dapat terdengar ke kelas tersebut. Para siswa juga banyak yang sibuk denga kegiatan masing-masing sehingga bisa dinyatakan bahwa keadaan kelas sangat tidak kondusif.
ü  Guru menerapkan sistem reward dan punishment dalam pengumpulan tugas. Guru juga menyuruh siswa yang tidak mengerjakan tugas untuk maju kedepan dan guru bertanya pada mereka apa alasan mereka tidak mengerjakan tugas.
ü  Terjadi interaksi yang kurang baik antara guru dan murid. Dapat dilihat dari banyaknya murid mengajukan pertanyaan langsung kepada guru karena antusias dengan materi yang disampaikan. Tetapi guru dikelas tersebut tidak terlalu peduli dengan keadaan kelas yang tenang atau tidak, guru tersebut hanya fokus pada penyampaian materi.
ü  Guru juga memberikan kesempatan kepada murid untuk menjelaskan materi kepada temannya.
ü  Pada saat proses pembelajaran terjadi, guru memberikan tugas kepada murid setelah materi diajarkan. Guru juga tetap mengontrol pekerjaan murid dikelas tersebut.

3.2  EVALUASI DATA

SD Methodist-An Pancur Batu yang kami observasi memiliki manajemen kelas yang cukup baik. Dimana tata ruang kelas yang baik, lingkungan sekolah dan ruangan kelas yang bersih dan cukup memadai dan fasilitas yang baik. Tetapi, ada hal-hal yang kami pikir memerlukan perhatian. Seperti, guru masih kerap lemah dalam menguasai kelas. Hal ini berkaitan dengan adanya murid yang usil kepada murid lain dan juga murid yang berantam. Seharusnya murid tersebut diberikan hukuman agar memberikan efek jera kepadanya. Dan juga kelas yang terlalu rapat dan dinding bangunan yang tidak terlalu tebal menyebabkan keributan yang di timbulkan oleh sebuah kelas memberikan gangguan (suara bising) ke kelas lainnya.

3.3 TESTIMONI OBSERVASI

KELAS IV KALEB
1.     Narulita Desi (16-177)
Observasi ke sekolah adalah pengalaman yang baru untuk saya. Saya bisa berjumpa dengan orang-orang baru, saya dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan orang baru, dan mengajarkan kepada saya untuk membuat perencanaan yang baik ketika ingin melakukan sesuatu.
2.     Winika Deliana (16-193)
Menurut saya kelas yang saya masuki belum terlalu kondusif. Masih banyak siswa yang jalan-jalan kesana kemari dan guru belum bisa mengatur murid sepenuhnya. Bahkan saat siswa sudah diberi sanksi oleh guru mereka seperti tidak mempedulikannya. Tapi ketika saya tanya tentang pelajaran mereka cukup mengerti tentang materi yang diberikan guru mereka. Mereka juga semangat ketika guru mereka mengajak mereka bermain games ditengah-tengah proses belajar mengajar. 
Tapi secara keseluruhan saya sangat menikmati observasi tersebut. Karena saya bisa sekalian belajar bagaimana cara mengendalikan kelas dengan baik dan benar, bagaimana cara menghadapi siswa, dan bagaimana cara mengajar yang baik dan benar.

KELAS IV MUSA
3.     Wina Audina (16-230)
            Keadaan kelas yang saya masuki tidak terlalu kondusif, ada anak yang tidak mengerjakan tugas dan ada juga yang tidak membawa buku. Ada juga siswa yang memukul-mukul meja dan berjalan-jalan di kelas. Saat kelas sedang membahas pelajaran si guru menyuruh siswa untuk kondusif dan kembali ke masing-masing tempat ada yang mendengarkan tetapi ada juga yang tetap melanjutkan kegiatan nya. Kemudian guru nya memberikan tugas yang harus dikumpulkan hari itu juga, jika tidak selesai siswa tidak diperbolehkan menggunakan jam istirahat. Beberapa saat setelah guru tersebut memberikan tugas, para murid yang tadi tidak kondusif kembali ke tempat duduk nya masing-masing dan mengerjakan tugas. Sebelum pelajaran berakhir, saya melakukan sesi tanya jawab dengan 4 orang siswa mengenai pelajaran hari itu. Ada siswa yang mengerti dengan pelajaran tersebut dan ada juga yang tidak menegerti, terkhusus siswa yang tidak membawa buku pelajaran.
Setelah melakukan observasi saya mendapatkan pengalaman yang sangat bermanfaat dan saya juga menikmati kegiatan observasi yang kelompok saya lakukan.
4.     Dwifarilan Filadelfia S (16-213)
Melakukan observasi terjun langsung ke sekolah, ini adalah yang pertama kali bagi saya. Ini adalah pengalaman baru yang memberikan banyak pelajaran bagi sayaa. Saya tidak menyangka secepat ini saya melakukan observasi ke sekolah. Saya sangat senang melakukan observasi ini bersama-sama dengan kelompok sayaa. Mendapat banyak pelajaran , bisa menyesuaikan diri dengan anak-anak karena kebetulan kami ke sekolah dasar, dan berinteraksi dengan guru-guru di sekolah tersebut. Dan observasi ini sangat berguna mengasah daya analisa saya dimana saya berpedoman pada teori yang telah dipelajari di mata kuliah psikologi pendidikan. Terimakasih saya ucapkan kepada dosen-dosen pengampu yang telah memberikan saya banyak pelajaran dan memperoleh pengalaman baru.

KELAS V DANIEL
5.     Ruth Tampubolon (16-192)
Menurut saya tugas observasi ke sekolah sangat menyenangkan, karena saya banyak dapat pengalaman baru dan saya dapat berinteraksi dengan orang orqang baru juga. Terimakasih kepada dosen mata kuliah psikologi pendidikan yang sudah memberikan tugas ini.
6.     Prima Nikita (16-181)
Saya sangat berkesan dengan tugas observasi sekolah ini. Karna dari sini saya belajar banyak, tentang hal bagaimana saya bisa menempatkan diri saya kepada anak anak kecil dan ini menjadi pelajaran baik yang saya dapatkan di semester 2 di Psikologi.

KELAS V YESAYA
7.     Esther Pasaribu (16-183)
Saya sangat senang sekali bisa melakukan observasi di sd methodist-An Pancur Batu. Saya bisa mengetahui sistem pembelajaran dan tata ruang yang lebih bervariasi
8.     Ruthwany (16-215)
 Observasi yang saya lakukan sangat menyenangkan dan bermanfaat bagi saya. Pada proses observasi yang kami lakukan banyak informasi atau pengetahuan yang saya dapatkan, saya dapat mengamati kegiatan belajar mengajar anak-anak, ada anak yanng kondusif juga ada anak yang tidak kondusif. Dan lebih banyak mengenal kegiatan apa saja yang mereka lakukan saat di sekolah.

3.4 DOKUMENTASI
                       







  


DAFTAR PUSTAKA
Santrock, W. John.(2004). Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta: Prenadamedia Group.




     
                                
       










 
       

Sabtu, 08 April 2017

TESTIMONI MATA KULIAH PENDIDIKAN

        Mata kuliah Pendidikan yang sudah berlangsung selama setengah semester yang dimulai pada bulan Febuari 2017 sampai dengan April 2017 merupakan mata perkuliahan yang menyenangkan bagi saya. Pada proses pembelajarannya banyak informasi atau pengetahuan yang saya dapatkan seperti halnya Pendidkan Multikultural, dimana saya baru mengetahui bahwa di kota Medan terdapat satu sekolah yang menerapkan pendidikan multikultural tersebut yaitu Yayasan Perguruan Sutan Iskandar Muda (YPSIM). Dalam perkuliahan Pendidikan ini, mahasiswa/i diminta untuk melakukan observasi mengenai proses pembelajaran di sekolah. Hal ini sangat menyenangkan bagi saya karena, membuat saya mengetahui tempat-tempat yang baru, memiliki lebih banyak pengalaman dan mengetahui suatu pengetahuan yang baru. Mahasiswa/i juga diberikan tugas untuk aktif dalam blognya, yang memberikan manfaat bagi mahasiswa/i untuk membaca dan mengetahui banyak hal. Secara umum, mata kuliah Pendidikan ini sangat menarik karena, mata kuliah Pendidikan memerlukan Psikologi dalam penyampaian suatu materi karena, seorang guru harus memperhatikan kondisi kejiwaan peserta didiknya. Semakin siap kondisi jiwa peserta didik dalam menerima materi pelajaran, akan semakin baik hasil yang akan diperoleh. 
        Saya mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Pendidikan yang bersedia untuk memberikan saya pengajaran dan pengetahuan selama proses pembelajaran, dimana proses pengajarannya sangat menyenangkan.

Senin, 03 April 2017

BAB 1
PERANGKAT UNTUK MENGAJAR SECARA EFEKTIF

Cara Mengajar yang Efektif
Penguasan Materi Pelajaran – guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel dan memahami materi. Tentu saja pengetahuan subjek materi bukan hanya mencakup fakta, istilah, dan konsep umu.
Strategi Pengajaran – konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahaman. Konstruktivisme juga menekankan pada kolaborasi –anak-anak saling bekerja sama untuk mengetahui dan memahami pembelajaran.
Penetapan Tujuan dan Keahlian Perencanaan Instruksional – guru yang efektif tidak sekedar mengajar dikelas, entah itu dia menggunakan perspektif tradisional atau konstruktivis. Mereka harus menentukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan.
Keahlian Manajemen Kelas – guru mampu menjaga kelas tetap aktif bersama dan mengorientasikan kelas ke tugas-tugas. Guru yang efektif membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.
Keahlian Motivasional – guru yang efektif punya strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar. Guru yang baik akan memberi kesempatan murid untuk berpikir kreatif dan mendalam untuk proyek mereka sendiri.
Keahlian Komunikasi – keahlian komunikasi bukan hanya penting untuk mengajar, tetapi juga untuk berinteraksi dengan orang tua murid. Guru yang efektif juga bekerja untuk menigkatkan keahlian komunikasi para murid.
Keahlian Teknologi – guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan komputer ke dalam proses belajar dikelas. Integrasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan belaar murid, termasuk kebutuhan mempersiapkan murid untuk mecari pekerjaan di masa depan, yang akan sangat membutuhkan keahlian teknologi dan keahlian berbasis komputer

Komitmen dan Motivasi
Komitmen dan motivasi dapat membantu guru yang efektif untuk melewati masa-masa yang sulit dan melelahkan dalam mengajar.guru yang efektif juga punya kepercayaan diri terhadap kemmpuan mereka dan tidak akan membiarkan emosi negatif melunturkan emosi mereka.

Pendekatan Riset Ilmiah
Riset ilmiah adalah riset objektif, sistematis, dan dapat diuji. Riset ilmiah preduksi kemungkinan bahwa informasi didasarkan pada keyakinan, opini dan peraaan personal. Riset ilmiah dilandaskan pada metode ilmiah, sebuah pendekatan yang dapat dipakai untuk menemukan informasi  yang akurat.

Metode Riset
Riset Deskriptif – riset ini bertujuan mengamati dan mencatat perilaku. Riset deskriptif tidak dengan sendirinya bia membuktikan apa penyebab dari suatu fenomena, tetapi bisa mengungkapkan informasi penting tentang perilaku dan sikap orang.
Observasi – observasi ilmiah dilakukan dengan cara sistematis. Observasi ini membutuhkan pengetahuan tentang apa yang anda amati, melakukan observasi dengan cara yang tidak mengandung bias, mencatat dan mengelompokkan apa yang anda lihat secara akurat dan menyampaikan hasil observasi anda secara efektif
Observasi Ilmiah – observasi ilmiah dipakai dalam studi yang memfokuskan di percakapan di museum sains anak-anak.
Observasi Partisipan – observasi dimana peneliti-pengamat terlibat aktif sebagai partisipan dalam suatu aktivitas atau tempat tertentu
Wawancara dan Kusioner – kebanykan wawancara dilakukan secara tatap muka, meskipun data juga dilakukan dengan cara lain, seperti secara langsung, melalui surat atau Internet. Kusioner biasanya diberikan kepada individu dalam bentuk tertulis. Wawancara dan observasi yang baik menggunkan pertanyaan yang konkret, spesifik dan tidak mendua dan juga menggunakan beberapa cara untuk mengecek autentisitas jawaban responden.
Tes Standar- tes ini menilai sikap atau keahlian murid dalam domain yang berbeda-beda. Tes-tes ini mempunyai banyak tujuan, antara lain memberikan pengukuran untuk studi riset, informasi yang membantu psikolog dan pendidik untuk membuat keputusan tentang seorang murid, dan membandingkan prestasi murid antarsekolah, antarkota, dan atarnegara.
Studi Kasus – kajian mendalam terhadap individu. Studi kasus sering dipakai ketika situasi yang unik, dalam kehidupan seseorang tidak dapat diduplikasi, entah itu karena alas an praktis maupun etis. Subjek studi kasus adalah unik, dengan susunan genetic dan pengalaman yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Studi Etnografik – studi ini adalah deskripsi mendalam dan interpretasi terhadap perilaku dalam satu etni atau kelompok cultural.tipe studi ini menggunakan observasi di setting alam dan wawancara.

Tantangan Riset
Etika – ahli psikologi harus berhati-hati dalam memastikan kesehatan dan keamanan anak yang berpatisipasi dalam studi riset. Sebelum riset dilakukan di sekolah, seorang administrator atau komite administrative akan mengevaluasi rencana risetnya dan menetukan apakah riset itu bermanfaat bagi sekolah atau tidak. Bahkan jika keluarga mengizinkan anak berpatisipasi dalam studi riset, jika anak itu tidak mau, maka keinginan si anak itu harus dihargai.
Gender – banyak pakar gender percaya bahwa banyak pendidikan dan riset mengandung bias gender. Periset pendidikan menyatakan bahwa  sudah lama perempuan diposisikan dibawah lelaki.

Etika dan Kultur – secara historis, anak etnis minoritas diabaikan dalam riset atau sekedar dianggap sebagai variasi dari norma atau kelaziman. Karena anak etnis minoritas diabaikan dalam riset sekian lama, maka ada kemungkinan lebih banyak variasi dalam kehidupan anak di dunia rill ketimbang yang ditunjukkan oleh studi riset di masa lalu. Secara historis, peneliti mempelajari dari kelompok etnis minoritas, mereka memfokuskan pada problemnya. Adalah penting untuk mempelajari problem-problem seperti kemiskinan yang dialami kelompok minoritas, tetapi juga penting untuk mengkaji kemungkinan kekuatannya, seperti kebanggan, harga diri, keahlian memecahkan masalah, dan sistem dukungan keluarga besar. Untungnya, sekarang muncul pandangan yang lebih pluralistic terhadap masyarakat kita dan para peneliti makin banyak yang meneliti dimensi positif dari kelompok etnis minoritas. 
BAB 12
PERENCANAAN, INTRUKSI DAN TEKNOLOGI

Perencanaan dan Intruksi Pelajaran Teacher-Centered
Sasaran Behavioral – adalah penyataan tentang perubahan yang diharapkan oleh guru akan terjadi dalam kinerja murid. Mager percaya bahwa sasaran behavioral harus mengandung tiga bagian:
·       Perilaku murid. Fokus pada apa yang akan dipelajari atau dilakukan murid.
·       Kondisi dimana perilaku terjadi. Menyatakan bagaimana perilaku akan dievaluasi atau dites
·       Krieteria kinerja. Menetukan level kinerja yang dapat diterima

Menyusun Taksonomi Intruksional
Domain Kognitif
  • Pengetahuan – murid punya kemampuan untuk mengingat informasi
  • Pemahaman – murid memahami informasi dan dapat menerangkannya dengan menggunakan kalimat mereka sendiri.
  • Aplikasi – murid menggunakan pengetahuan untuk memecahkan problem kehidupan nyata.
  • Analisis – murid memecah informasi yang kompleks menjadi bagian kecil-kecil dan mengaitkan informasi dengan informasi lain.
  • Sintesis – murid mengombinasikan elemen-elemen dan menciptakan informasi baru.
  • Evaluasi – murid membuat penilaian dan keputusan yang baik.
Domain Afektif
  • Penerimaan – murid mengetahui atau memperhatikan sesuatu di lingkungan.
  • Respons – murid termotivasi untuk belajar dan menjukkan perilaku baru sebagai hasil dari pengalamannya.
  • Menghargai – murid terlibat dan berkotmitmen pada beberapa pengalaman.
  • Pengorganisasian – murid meingtergrasikan nilai baru ke perangkat nilai yang sudah ada dan memberi prioritas yang tepat.
  • Menghargai karakteristik – murid bertindak sesuai dengn nilai tersebut dan berkotmitmennya kepada nilai tersebut.
Domain Psikomotor
  •  Gerak refleks –murid merespons suatu stimulus secara refleks tanpa perlu hanya berpikir.
  • Gerak fundamental dasar – murid melakukan gerakan dasar untuk tujuan tertentu
  • Kemampuan perseptual – murid menggunakan indra, seperti penglihatan, pendegaran atau sentuhan, untuk melakukan sesuatu.
  • Kemampuan fisik – murid mengembangkan daya tahan, kekuatan dan fleksibilitas, dan kegesitan.
  • Gerakan terlatih – murid melakukan keterampilan fisik yang kompleks dengan lancer
  • Perilaku nondiskusif – murid mengomunikasikan perasaan dan emosinya melalui gerak tubuh.

Perencanaan dan Intruksi Pelajaran Learned Centered
Prinsip Learned Centered – prinsip ini menekankan pembelajaran dan pelajar yang aktif dan reflektif.  Faktor Kognitif dan Metakognitif:
 Sifat proses pembelajaran – pembelajaran subjek materi yang kompleks akan sangat efektif jika dilakukan dengan melalui proses pengkonstruksian makna dari informasi dan pengalaman.
 Tujuan proses pembelajaran – pelajar yang sukses, dengan bantuan dan pedoman intruksional dan
 menciptakan representasi pengetahuan yang bermakna dan koheren.
Konstruksi pengetahuan – pelajar yang sukses bisa menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan cara yang mengandung makna tertentu.
 Pemikiran strategis – pelajar yang sukses dapat menciptakan dan menggunakan berbagai strategi pemikiran dan penalaran untuk mencapai tujuan pembelajaran.
 Memikirkan tentang pemikiran (metakognisi) – pelajar yang sukses adalah pelajar metakognitif
 Konteks pembelajaran – pembelajaran tidak terjadi diruang hampa. Pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan seperti kultur, teknologi dan praktik instruksional.

Teknologi dan Pendidikan
Revolusi Teknologi adalah bagian dari masyarakat informasi di mana kita kini hidup. Teknologi telah menjadi bagian dari sekolah selama beberapa dekade, tetapi teknologi masih dipakai secara sederana dan berubah dengan lamban. Banyak guru tidak memiliki pengetahuan memadai dalam menggunakan computer, dan banyak sekolah tidak menyediakan workshop atau pelatihan yang dibutuhkan. Kenyataan ini berarti bahwa pembelajaran di sekolah belum direvolusionerkan secara teknologis.

Internet
Internet adalah inti dari komunikasi melalui komputer. World Wide Web (Web) adalah sistem pengambilan informasi hypermedia yang menghubungkan berbagai materi Internet; materi ini mencakup teks dan grafis. Website adalah lokasi individu atau organisasi dari Internet. Website menampilkan informasi yang dimasukkan oleh individu atau organisasi. E-mail adalah singkatan dari elektronik mail dan merupakan bagian penting lain dari Internet. Pesan dapat dikirim dan dietrima dari individu atau dari banyak individu sekaligus.

Teknologi dan Diversitas Sosikultural
Beberapa rekomendasi untuk mencegah atau mengurangi kesenjangan dalam akses dan penggunaan computer
·       Saring materi teknologi untuk menghilangkan bias gender, cultural, dan etnis.
·       Gunakan teknologi sebagai alat untuk menyediakan kesempatan pembelajaran yang aktif dan konstruktif untuk semua murid dari semua latar belakang gender, etnis, dan cultural.
·       Beri murid informasi tentang pakar dari latar belakang gender dan etnis yang berbeda yang menggunakan teknologi secara efektif di dalam kehidupan dan karier mereka.
·       Bicaralah dengan orang tua tentang pemberian aktivitas belajar berbasis computer dirumah.

Masa Depan: Komputer di Mana-mana

Beberapa pakar komputer percaya bahwa generasi komputer berikutnya-generasi ketiga akan berupa ubiquitous computing yang menekankan pada distribusi komputer ke lingkungan, ketimbang ke personal. Ringkasnya, ubiquitous computing akan berupa dunia pasca-PC. Ubiquitous adalah kebalikan dari realitas virtual. Ubiquitous computing akan memaksa komputer eksis di dunia manusia.
BAB 13
MOTIVASI, PENGAJARAN, DAN PEMBELAJARAN

Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah dan kegigihan perilaku. Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energy, terarah dan bertahan lama.

Perspektif tentang Motivasi
a.         Perspektif Behavioral menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci  dalam menentukan motivasi murid.
b.  Perspektif Humnitis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain).

Menurut hierarki kebutuhan Malow, kebutuhan individual harus dipuaskan dalam urutan sebagai berikut:
  • Fisiologis: lapar, haus, tidur.
  • Keamanan: bertahan hidup.
  • Cinta dan rasa memiliki: keamanan, kasih saying, dan perhatian dari orang lain.
  • Harga diri: menghargai diri sendiri
  • Aktualisasi diri: realisasi potensi diri.
  • Aktualisasi diri, kebutuhan tertinggi dan sulit dalam hierarki Maslow, diberi perhatian khusus. Aktualisasi diri adalah motivasi untuk menggembangkan potensi diri secara penuh sebagai manusia.

Perspektif Kognitif
Persepektif kognitif menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan. Perspektif kognitif tentang motivasi sesuai dengan gagasan R.White (1959) yang mengsulkan konsep motivasi kompetensi, yakni ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif , menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien.

Perspektif  Sosial
Kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Kebutuhan afiliasi murid tercemin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, keterikatan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan postif dengan guru.

Motivasi Ekstrinsik dan Intrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri).

Determinasi Diri dan Pilihan Personal
Dalam pandangan ini, murid ingin percaya bahwa mereka melakukan sesuatu karena kemauan sendiri, bukan karena kesuksesan atau imbalan eksternal. Para periset menemukan bahwa motivasi internal dan minat intrinsic dalam tugas sekolah naik apabila murid punya pilihan dan peluang untuk mengambil tanggung jawab personal atas pembelajaran mereka.

Pengalaman Optimal
Pengalaman optimal ini berupa perasaan senang dan bahagia yang besar. Pengalaman optimal itu kebanyakan terjadi ketika orang merasa mampu menguasai dan berkonsentrasi penuh saat melakukan suatu aktivitas. Pengalaman optimal ini terjadi ketika individu terlibat dalam tantangan yang mereka anggap tidak terlalu sulit tetapi juga tak terlalu mudah.

Proses Kognitif Lainnya
Teori Atribusi menyatakan bahwa dalam usaha mereka memahami perilaku atau kinerjanya sendiri, orang-orang termotivasi untuk menemukan sebab-sebab yang mendasarinya. Atribusi adalah sebab-sebab yang dianggap menimbulkan hasil.
Lobus persepsi murid tentan kesuksesan atau kegagalan sebagai akibat dari faktor internal atau eksternal yang mempengaruhi harga diri murid.
Stabilitas perepsi murid terhadap stabilitas dari suatu sebab yang mempengaruhi kesuksesannya.
Daya Kontrol persepsi murid tentang daya kontrol atas suatu sebab berhubungan dengan sejumlah hasil emosional seperti kemarahan, rasa bersalah, rasa kasihan dan malu.

Motivasi untuk Menguasai
Anak dengan orientasi untuk menguasai akan fokus pada tugas ketimbang pada kemampuan mereka, punya sikap positif, dan menciptakan strategi berorientasi solusi yang meningkatkan kinerja mereka. Sebaliknya anak dengan orientasi tak berdaya berfokus pada ketidakmampuan personal mereka, sering kali mereka mengatributkan kesulitan mereka pada kurangnya kemampuan, dan menunjukkan sikap negatif . Orientasi untuk meguasai juga bisa dipertengtangkan dengan orientasi kinerja, yang berarti lebih memperhatikan hasil ketimbang proses.

Self-Efficacy
Konsep self-efficacy (keyakinan akan diri sendiri) menurut Bandura, yakni keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hasil positif. Self efficacy adalah faktor penting yang mempengaruhi prestasi murid. Murid dengan self efficacy  rendah mungkin menghindari banyak tugas belajar, khususnya yag menantang dan sulit, sedangkan dengan level self-efficacy tinggi mau mengerjakan tugas-tugas seperti itu. Murid dengan level self efficacy tinggi lebih mungkin untuk tekun berusaha menguasai tugas pembelajaran ketimbang murid yang berlevel rendah.

Kecemasan dan Prestasi
Kecemasan adalah perasaan takut dan kegundahan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan. Sejumlah program telah diciptakan untuk mengurangi tingkat kecemasan. Program intervensi terhadap kecemasan difokuskan pada aspek kekhawatiran, di mana program ini berusaha mengganti pemikiran yang destruktif dan negatif tentang kecemasan dengan pemikiran yang lebih positif dan konstruktif.

Motivasi, Hubungan dan Konteks Sosikultural
Motivasi sosial adalah kebutuhan dan keinginan yang dikenal melalui pengalamn dengan dunia sosial.
Karakteristik demografis – Orang tua dengan pendidikan yang lebih tinggi akan lebih percaya bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan anak adalah penting. Praktik pengasuhan anak – berikut adalah praktik parenting positif yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi:
·       Mengenal betul anak dan memberi tantangan dan dukungan dalam kadar yang tepat.
·       Memberi iklim emosional yang positif, yang memotivasi anak untuk menginternalisasikan nilai dan tujuan orang tua.
·       Menjadi model perilaku yang memberi motivasi: bekerja keras dan gigih menghadapi tantangan.

Minggu, 05 Maret 2017

TUGAS KELOMPOK PENDIDIKAN (KELOMPOK 5)


Kelompok 5:
Narulita Desi Basaria (16-177) (http://narulitadesi.blogspot.com)
Prima Nikita (16-181) (http://primanikita16181.blogspot.com)
Esther Pasaribu (16-183) (http://estherpsrb16183.blogspot.com)
Ruth Shinta B. T. (16-192) (http://esdungdungkacanghijau.blogspot.com)
Winika Deliana Sitompul (16-193) (http://foodienyummy.blogspot.com)
Dwifarilan Filadelfia (16-213) (http://stalkingwhi.blogspot.com)
Ruthwany V. C Hutagaol (16-215) (http://pizzazzandhappiness.blogspot.com)
Wina Audina (16-230) (http://bangtanstrash.blogspot.com)

Kamis, 02 Maret 2017

TUGAS MK PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Kelompok 5:
Narulita Desi Basaria (16-177) (http://narulitadesi.blogspot.com)
Prima Nikita (16-181) (http://primanikita16181.blogspot.com)
Esther Pasaribu (16-183) (http://estherpsrb16183.blogspot.com)
Ruth Shinta B. T. (16-192) (http://esdungdungkacanghijau.blogspot.com)
Winika Deliana Sitompul (16-193) (http://foodienyummy.blogspot.com)
Dwifarilan Filadelfia (16-213) (http://stalkingwhi.blogspot.com)
Ruthwany V. C Hutagaol (16-215) (http://pizzazzandhappiness.blogspot.com)
Wina Audina (16-230) (http://bangtanstrash.blogspot.com)

Bagaimana pandangan dan penilaian anda sehubungan dengan kewajiban setiap mahasiswa yang mengikuti mata kuliah psikologi pendidikan 2 SKS harus mempunyai email dan blog ditinjau dari uraian psikologi pendidikan dan fenomena pendidikan di Indonesia khususnya di Medan?

Mahasiswa Psikologi yang mengikuti Psikologi Pendidikan harus memiliki email dan blog karena beberapa alasan berikut menurut uraian Psikologi Pendidikan.
a. Kewajiban mahasiswa  psikologi mempunyai blog untuk diajarkan bradaptasi pada sistem pendidikan baru yang mulai berkembang di Indonesia. Mahasiswa juga dituntut berperan aktif dalam pengembangan blog sebagai salah satu sarana pembelajaran selain itu melalui blog mahasiswa juga dapat menyalurkan kreatifitas kedalam blog sehingga orang lain bisa menilai karya mahasiswa secara bebas. Mahasiswa juga bisa mendapatkan feedback-feedback yang akan sangat membantu mahasiswa dalam pengembangan karya tersebut dengan kata lain kreatifitas mahasiwa bisa semakin terpacu dengan adanya sistem pembelajaran melalui blog. Pelaksanaan ini mendukung teori John Dewey yang menekankan Psikologi Pendidikan pada keaktifan mahasiswa.
b.  Kewajiban mahasiswa psikologi mempunyai email juga tidak terlepas dari kaitan dengan perkembangan teknologi di  Indonesia. Dengan adanya email, mahasiswa dapat mengirimkan tugas tugas kepada dosen lebih efisien. Untuk mengumpulkan tugas mahasiswa tidak perlu lagi datang kekampus melainkan hanya duduk didepan laptop dan mengirimkan tugasnya. Selain itu email juga bisa membantu mahasiswa dalam pengerjaan tugas kelompok. Mahasiswa dapat berdiskusi dengan teman secara online tanpa tatap muka. Dalam pengerjaan tugas kelompok biasanya dilakukan pembagian tugas dan akan ada suatu waktu yang ditentukan untuk mengumpulkan semua tugasnya untuk digabungkan.  Dengan pengiriman tugas dengan email mahasiswa turut membantu melestarikan lingkungan dengan paperless.

Ditinjau dari fenomena pendidikan di Indonesia terutama di Medan :



            Di zaman yang sudah maju, orang-orang tidak dapat terlepas dari internet termasuk dalam dunia pendidikan terutama di Medan. Ini ditunjukkan dengan semkain banyaknya aktivitas pembelajaran menggunakan internet, seperti perkuliahan kita di Fakultas Psikologi USU pada MK Aplikasi Komputer dan Psikologi Pendidikan. Sehingga, pembuatan email dan blog menjadi langkah awal bagi mahasiswa agar tidak tertinggal dalam perkuliahan.

Popular Posts

Like us on Facebook